Spiga

Translasi

MEA: Ilusi atau Sinergi?

MEA: Ilusi atau Sinergi
Oleh: Ariyanto Nugroho

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah proyek besar yang digadang-gadang akan menjadi katalis regionalisme Asia Tenggara yang lebih dewasa. Namun tidak sulit dipahami bahwa MEA adalah proyek yang muluk. MEA memberikan mekanisme pengurangan hambatan tarif hingga 0% bagi perdagangan seluruh negara anggota ASEAN mulai 2015 ini. Secara kasat mata hal ini adalah upaya visioner untuk meningkatkan volume perdagangan regional yang akan berdampak signifikan pada penguatan dan pertumbuhan ekonomi kawasan. Namun apa jadinya jika negara-negara ASEAN yang hampir sama produksi barang ekspornya saling berdagang? Tentu saja katalis regionalisme tidak akan tumbuh seperti yang diharapkan. Tidak jarang MEA disebut sebagai ilusi semata.

Tidak berhenti di sana. Skema China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) yang juga terjadi justru menjadikan negara-negara ASEAN sebagai korban pasar. Produk Tiongkok gencar menyerbu pasar ASEAN dalam skema ini. Dengan bahasa yang lebih sederhana, mekanisme MEA dan CAFTA ini justru lebih banyak menguntungkan Tiongkok daripada negara-negara ASEAN. Dikarenakan manajemen perdagangan Tiongkok yang mampu memproduksi barang ekspor lebih murah, kemudian produsen lokal negara-negara ASEAN mengalami kesulitan bersaing. Jadi apa untungnya MEA bagi negara-negara ASEAN? Negara-negara ASEAN kemudian hanya dapat sedikit berteriak melalui badan kesehatan bahwa produk ekspor Tiongkok tidak memenuhi standar kesehatan.

Lalu apakah MEA bukan hanya ilusi namun justru juga sangat merugikan ekonomi Indonesia? Bisa jadi iya, namun dialektika tidak pernah berhenti. Pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di ASEAN, bersanding dengan Vietnam dan Filipina. Pertumbuhan kelas menengah Indonesia juga semakin kentara. Indonesia memang bisa jadi tidak bisa terlalu berharap pada MEA dan CAFTA, dan memang selama ini katalis ekonomi kita tidak terfokus di sana.

Namun MEA sudah berjalan dan akan sangat mubazir jika institusi ekonomi regional ini hanya dipandang sebagai ilusi atau justru sistem yang merugikan. Dalam MEA disepakati bebas visa bagi seluruh kawasan ASEAN. Bisnis menjadi lebih mudah dan murah. Marilah kita lihat jauh lebih dalam bagaimana ide MEA ini dicetuskan. Berawal dari semangat ASEAN Way, ide komunitas ASEAN kemudian mengkristal. Ada sebuah pernyataan yang menohok, “Tidak jarang orang Eropa jika ditanya asalnya dari mana menyebutkan asalnya dari Eropa, namun adakah orang Indonesia yang menyebutkan asalnya dari Asia Tenggara? Nampaknya tidak banyak.” Komunitas ASEAN terdiri dari ASEAN Economic Community, Security Community, dan Cultural Community yang harusnya saling bersinergi untuk mewujudkan masyarakat ASEAN yang tangguh menciptakan solusi bersama bagi masalah kawasan.

Usaha dalam negeri terutama dalam lingkup menengah dan kecil memang mengalami goncangan akibat MEA dan CAFTA. Pemerintah pun kemudian tidak banyak melakukan upaya kreatif untuk menyelesaikan masalah ini. Bagaimanapun MEA harus dikapitalisasi sekreatif mungkin untuk memajukan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Caranya pertama, adalah dengan memotong rantai perumitan masalah CAFTA. Produsen eksportir Indonesia harus memiliki spesifikasi produk yang unik dibanding dengan negara ASEAN yang lain agar perdagangan antar negara-negara ASEAN tumbuh. Hal ini dapat dilakukan dengan gencarnya Indonesia melakukan paten terhadap produk dalam negeri yang unik atau niche. Kedua, pemerintah harus memperkuat dan meringankan biaya produksi masyarakat lokal. Ketiga, pemerintah harus mengendorse penciptaan produk lokal sekreatif mungkin dengan kualitas yang mengungguli produk luar. Keempat, pemerintah harus mulai melakukan perencanaan pengalihan ekspor ekstraktif ke ekspor non-ekstraktif yang bersifat unik diantara negara-negara ASEAN.

Dengan demikian Indonesia akan mampu mengkapitalisasi MEA, dan bahkan mengubah persepsi MEA sebagai ilusi menjadi sebuah sinergi. Diperlukan kesungguhan untuk memanajemeni upaya ini, juga kesadaran bersama bahwa ASEAN adalah komunitas hidup kawasan secara bersama. Dengan bingkai pemikiran ini diharapkan MEA akan menjadi instrumen kemajuan Indonesia dan ASEAN untuk terus menciptakan regionalisme yang nyaman.

read more...

Matahari Beku dan Pelangi Mencandu

Pagi belum menampakkan gairahnya untuk menjemput siang di pinggiran Kota Kyiv  yang sepi. Indera pemuda ini tak menangkap stimulan selain mobil yang berseliweran sesekali, suara burung musim semi yang mengikik, dingin udara yang belum beranjak melebihi 5° Celcius, dan matahari yang terlihat beku di horizon berselimut awan cirrus . Pemuda tinggi, berkacamata, dan berpenampilan sederhana ini duduk di kursi logam abu-abu di sebuah taman yang sering disebut Taman Shevchenko oleh warga sekitar. Kota yang mahsyur dengan tak menggunakan nama jalan sebagai penunjuk alamat ini, memang memiliki banyak taman publik yang indah dan ramai dikunjungi. Kyiv adalah cermin bagi karakter pemuda ini. Hatinya yang sulit diterka, layaknya kota tanpa nama jalan sebagai penunjuk alamat. Walau begitu ketika seorang telah terpaut secara kondisional dan emosional padanya, maka akan terlihat sebuah imaji yang menggugah dan indah, layaknya kota penuh taman dan keadaannya yang menenangkan.
Sembari menengok jam tangan usangnya yang menunjukkan pukul 9 AM., dalam benak pemuda ini terlintas memori masa lalunya. Memori yang oleh pemuda ini dianggap sebagai puzzle yang dituntunkan oleh Tuhan sehingga dapat diselesaikannya sempurna. Puzzle yang membawanya ke Kyiv, dan memautkannya dengan gadis istimewa dalam hidupnya, gadis yang penuh senyum bernama Lauri. Memori ini membawanya ke masa SMA yang penuh depresan sekaligus pencerahan, dan hubungannya dengan Lauri.

***

“Sombong banget sih lo, ignorant bangsat! Merasa pintar cuma karena make kacamata! Dingin banget sih lo, kayak mayat. Emang mending mati aja lo! Gagal tim kita, semua gara-gara lo!”
Teman Tommy menyahut datar, “Udah Tom, kasian Finan, yang penting dia udah mengakui salahnya. Show must go on bro, don’t mean it too much.”
Finan, bocah dingin ini keluar ruangan Lab Teknologi Informasi sekolahnya. Sebelum melintas pintu ia berseru, “Kalo gue ga ignorant kalian pasti udah nyesel seumur hidup. Orang-orang konspiratif dan sok pinter kayak kalian layak jadi sampah dunia. Kalian kan yang masukin trojan drop-rat  murahan ke laptop gue trus nyuruh Lauri buka link drop-rat nya? Konsep visual-basic  proyek kita rusak gara-gara ulah kalian sendiri. Gue ga merasa salah. Gue ga ngomong kalian dengki, kalian hanya bodoh. Silahkan semua benci gue.”
“Lo cari mati Fin! Anak cupu kayak lo ga bisa menang lawan gue. Ingat gue Tommy Rustaji
bakal nginget ini selamanya!”

***

Finan, pemuda yang sedang memandangi langit Kyiv ini memalingkan wajah seketika memori itu terlintas. Mencoba mengusir dendam, dengan memandangi bocah perempuan yang menggenggam dua balon merah di tangannya. Selayaknya Tuhan memperhatikan Finan, tiba-tiba satu balon bocah ini terlepas dari genggaman si bocah menuju ke arah Finan. Sekejap Finan menangkap balon itu, dan teralihkanlah memori kelamnya.
“Here sweetie your baloon, hold it tight next time ya.”
“Thank you so much Sir, sorry Anna couldn’t speak English yet. But she must be very happy.”
“You’re welcome. It’s okay Mom. See Anna, hold it carefully later okay.”
Anna, bocah perempuan ini sepintas tersenyum, menimpali senyuman sederhana Finan yang merendah memberikan balon. Anna merajuk pada ibunya sambil malu-malu mengatakan okay. Kemudian ibu dan bocah ini berjalan pergi, menyisakan satu kepingan puzzle kehidupan lagi bagi Finan, untuk dirangkai dalam frame kehidupan yang lebih besar. Hal-hal biasa dan tak spesial seperti ini bagi Finan adalah candu. Hal yang terpaut dalam benak Finan semenjak ia mengenal Lauri lebih dekat. Kepingan-kepingan yang sedikit demi sedikit mengaburkan luka lamanya. Sekalipun Finan percaya bahwa setiap penciptaan Tuhan adalah positif, namun ia tidak dapat menghindari fakta bahwa ketenangan dan keramahan masih diperlukannya untuk penyembuhan schizophrenia  yang dia derita akibat depresan massif. Dan Lauri dianggapnya punya peran lebih kuat daripada psikiater dan psikolog yang dikunjungi Finan setiap bulannya sebagai penawar penyakitnya. Terlebih dari ikatan kondisional ini, Finan memiliki perasaan emosional pada Lauri. Begitu juga sebaliknya, setidaknya di pikiran Finan. Ia merasa Lauri dan dirinya saling mencandu namun
keduanya tak menjalin hubungan kasih.

***

Sepintas saja Finan kembali ingat kejadian pertamanya yang mendekatkannya dengan Lauri.
“Murid-murid, kita kedatangan siswi baru dari Solo. Namanya Lauri Adhyanti. Kalian diharap membantu Lauri membaur. Ayo Lauri perkenalkan dirimu.”
“Teman-teman selamat pagi perkenalkan nama saya Lauri Adhyanti, panggil saja Lauri. Terima kasih. Sekolah asal saya SMAN 4 Surakarta. Saya pindah ke Jakarta dikarenakan alasan klasik, kepindahan bisnis orang tua. Lebih lanjut bisa teman-teman tanyakan langsung saja. Selebihnya mohon bantuannya.”
Wali kelas itu pun menimpali “Silahkan duduk Lauri, silahkan tempati meja yang kosong.”
Sembari Lauri berjalan menuju mejanya, seisi kelas memandangnya. Pantas saja gadis rupawan berperawakan Cina, dengan rambut sebahu ini cukup cantik, berjalan anggun tanpa melepaskan senyum kecil. Tanda bahwa dia seorang yang menghormati sopan santun, keramahan, sekaligus sinyal intelegensi.
Ketika hendak duduk di kursinya Lauri tersentak oleh murid yang duduk di belakangnya. Ia terlihat aneh, dengan tatapan tajam, raut wajah yang bertekstur, dan kacamata yang agak miring. Keduanya bertatapan sejenak. Namun tak begitu lama Lauri melempar senyum pada murid pria ini. Melihatnya murid pria ini dengan cepat membuang mata, namun Lauri tetap tersenyum sejenak. Murid pria ini adalah Finan.

***

Selayaknya terbangun sebuah plot, Tuhan mempertemukan dua manusia ini kembali pada kondisi yang lebih intens. Ketika sesi pelajaran Kewarganegaraan, Finan mendadak merasa pusing dan meminta ijin ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Sesampainya di UKS sebenarnya pusing kepala Finan sudah berkurang namun ia merasa enggan kembali ke kelas. Karena baginya sesi pelajaran tersebut hanya berisi doktrinasi tendensius, bahkan mungkin pelajaran itu di luar ciri keilmuan yang bebas nilai. Finan menjadi bocah yang dingin dan arogan kala itu sekalipun perspektifnya cukup luas dan dalam. Finan yang berasal dari keluarga akademisi memiliki berbagai resource bacaan, ia menyukai pemikiran radikal dan cenderung kiri. Namun sebenarnya ia termasuk bocah yang berdedikasi pada ilmu, lebih dari anak seumurannya. Mungkin hal itu yang menyebabkan ia memiliki kecenderungan kelainan mental. Di UKS ia bergumam tentang borok-borok sistemik dunia yang begitu saja terlintas di pikirannya hasil renungannya sejenak.
“Uang, kelas sosial, perbedaan kepentingan, eksploitasi, dehumanisasi , pola sistemik, pusat phery-pery , ketergantungan, IMF , krisis moneter Indonesia. Marx dan Engels  benar. Revolusi. Paradigma harus diubah. Sulit. Seandainya Tuhan itu ada dan mengulurkan tangannya menumpas dehumanisasi terselubung. Tapi agama itu produk sejarah. Kaku. Membangun alienasi. Arghhh. Yang salah dunia ini atau aku yang schizoprenic. Delusi. Halusinasi. Mana diri-Mu Tuhan?”
Ternyata tanpa sepengetahuan Finan, Lauri yang sedang lewat karena dimintai guru mengambil spidol warna di ruang Tata Usaha (TU) mendengar gumaman Finan. Tanpa berpikir panjang Lauri yang tertarik, masuk ke ruang UKS dan dari balik tirai menyahut, “Kerja sama itulah yang diperlukan dunia, hal yang tak pernah terpikirkan oleh kaum kiri yang gemar mengkritik. Agama itu bagaimanapun pembangun peradaban sob. Terus Tuhan kan juga kata Einstein ada, ilmiah bisa jadi. Soal schizophrenia aku ga tau banyak, tapi yang aku tahu ada yang namanya pygmalion effect , artinya usaha dan keyakinan berbanding lurus dengan keberhasilan. Makanya positif ya sob.”
Mendengar sahutan ini Finan terkejut sekali. Suatu sahutan lembut yang dianggapnya cukup tak sopan, namun syarat dengan nilai akademisi dan inspirasi yang tak pernah didengar dari teman seusianya. Tanpa Finan sadari, Finan tersenyum kecil, namun segera menyahut, “Orang macam apa lo, sembarangan mendebat monolog orang lain. Ga punya sopan santun ya?”
“Baik. Analogikan aku ga punya sopan santun. Maka aku akan semakin mendebatmu. Dan aku ga akan pergi sebelum puas menerima jawaban teoritismu akan pertanyaanku. Konsekuensinya selanjutnya kamu boleh manggil aku tak sopan. Pertanyaannya....”
“Tunggu dulu, orang aneh macam apa lo bilang gitu. Sombongnya. Oke gue setuju. Gue ga butuh manggil lo ga sopan. Lo cuma perlu nurutin satu kemauan gue aja. Gimana?”
“Kemauan apa dulu? But karena kamu langsung setuju aku setuju juga. Weeek!”
“Cih, oke gue siap.”
“Karena kamu kayaknya jago soal sosial politik, pertanyaannya kenapa Indonesia dengan resource sangat besar belum mampu menjadi kekuatan politik dan ekonomi dunia?”
“Wuss, bisa panjang bener jawabnya.”
“Jawab aja make skema plot kayak monologmu tadi oke.”
“Oke. Sejarah dan faktor geografis. Perebutan pengaruh. Turbulensi pemerintahan. Perebutan pengaruh lagi. Stabil. Bad governance . Reformasi. Goncangan stabilitas. Eksperimentasi demokrasi. Kemelut kepartaian dan revolusi media informasi. Pembentukan opini publik tak berimbang. Demokrasi belum dewasa. Ancaman stabilitas. Yang gue sebutin tadi teraplikasi dalam frame besar karena entitas di Indonesia sangat beragam dan gagap demokrasi. In short perhaps that’s all.”
“Hmmm. Sounds interesting. Bisa-bisa. Tapi bagaimanapun kamu missed satu poin besar.”
“Ah. Masa iya?”
“Intervensi Tuhan.”
“Wow. Akademiskah? Cih.”
“Beri aku 2 menit untuk mengantar spidol ke kelas. Selanjutnya aku akan ijin ke UKS juga.”
“Oh oke. Silahkan. Bilang aja masuk predicament. Hahaha.”
“Tengil juga kamu, whatever lah. Tunggu ya!”
Lauri bergegas menuju kelas dan mendapatkan ijin untuk menuju UKS juga. Mendengar langkah kaki Lauri terdengar Finan menimpali, “Lama banget jeng, darimana aja?”
“Baru 2 menit 16 detik. Kangen ya!”
“Terserah. Mana argumenmu buruan nyet!”
“Ga kaget kalo orang kayak kamu apatis, pesimis, arogan dan ga sopan. Oke mulai dari analogi dunia ga teratur. Bisa jadi Tuhan memang ga ada. Tapi ibarat dingin kan terjadi karena ketiadaan panas. Gelap terjadi karena ketiadaan cahaya. Jadi dunia yang ga teratur ga bisa dianalogikan dengan ketidakadaan Tuhan kan. Itu yang bilang Einstein. Noh. Silahkan ditanggapi.”
“Tahu apa kamu soal agamaku?”
“Aku bukan penganut deism , freemason , atau apapun itu. Kamu tahulah agamaku. Yang aku tahu Tuhan itu entitas universal. Semua orang diberi hak dan kesempatan yang sama untuk mengenal dan mencintai Tuhan. Tuhan itu seperti dalam agamamu adalah Maha Lembut, yang mengkoneksi seluruh entitas di alam semesta dengan cara yang tersembunyi. Ketika kamu berbuat kebaikan maka jaring-jaring Tuhan akan mengantarkanmu pada kebaikan pula. Seperti kisah Musa yang mencoba menghardik pencuri kayu bakar. Tuhan mewahyukan bahwa pencuri itu telah tewas tergigit ular berbisa. Namun ternyata pencuri tersebut masihlah hidup. Musa pun bertanya bagaimana bisa Tuhan salah, pada si pencuri. Kemudian si pencuri berkata ia baru saja berderma kepada fakir. Tuhan pun kembali berwahyu pada Musa bahwa kebaikan manusia pasti dibalas kebaikan oleh-Nya. Nah, makanya positif lah sob!”
Mendengar penjelasan tadi pun Finan kehilangan keangkuhannya, egonya runtuh seketika. Bagaimana sebuah penjelasan sederhana yang selama ini tertutupi perspektif ilmiah yang dipegangnya, akhirnya merubuhkan arogansinya. Seorang gadis cantik, bersuara lembut, yang cerdas, dan baik hati membuka pintu pencerahan baginya. Hal yang tak disangka-sangka oleh Finan sebelumnya bahwa hanya dalam hitungan menit perspektif hidup Finan berbalik arah. Pada saat yang sama pula Lauri muncul dari balik tirai tersenyum dengan cantiknya, yang entah bagaimana caranya menenangkan hati Finan yang meracau. Dengan terbata Finan mencoba memecah kesunyian, “La..la..la..uri, ka..ka..mu sudah berbuat baik padaku. Lalu apa Tuhan akan membalas kebaikanmu. Buktikan Lauri.”
“Oh iya. Kita kenalan secara formal dulu. Aku Lauri. Kamu?”
“Finan Aditya. Panggil saja Finan. Maaf aku yang sebenarnya sudah tak sopan.”
“Santai. Kita teman oke? Janji ya, kita akan debat lagi, siapa menang siapa kalah bukan masalah. Sebagai ganti dan sebagai bukti bahwa Tuhan akan membalas kebaikanku, mmmhhmm.. kamu akan mentraktirku minum jam istirahat ini di kantin. Oke?”
Betapa terperanjat kembali Finan mendengar balasan dari Lauri tersebut, namun dengan keadaan yang lebih melegakan. Finan pun membalas, “Oke. Lain kali debat, gue lah yang akan menang. Siang ini juga, apapun yang kamu mau di kantin, gue traktir. Ohiya makasi ya kamu udah mau jadi temenku”
“Aku loh Fin yang harusnya bilang gitu haha. Bercanda. Ahh ngantuk juga ada kasur nganggur. Rebahan dulu ya Fin. Jagain kalo aku kebablas tidur.”
“Okey madam. Besuk-besuk bolos gini lagi ya. Haha.”
“Huss. Finan anak nakal.”

***

Sejak saat itulah Finan dan Lauri mulai berteman akrab, bahkan lebih dari akrab. Mereka sering saling berdiskusi. Keduanya terlihat bahagia bersama, sebagai teman. Hingga suatu saat Finan berkata pada Lauri, “Lauri hidup ini candu ya?”
“Yup, jarang-jarang kamu ngajak omong di luar ranah teoritis Fin?”
“Jika Marx bilang agama adalah candu, maka gue bilang kamu adalah candu.”
Keheningan menyeruak, namun Lauri segera menimpalinya dengan guyonan, “Kamu udah minum olanzapine  kan Fin?”
Hening jatuh lagi diantara mereka, namun Finan segera menangkisnya dengan tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, “Lauri, gue rencana mau ke Ukraina nih di Kyiv nglanjutin kuliah, tapi kita tetep kontak-kontakan ya. Gue pengin kita bisa ketemu lagi. Ohiya kamu mau ngelanjutin ke mana?”
“Ke FKUI Fin, sukses ya di Kyiv.”
“Iya kamu juga Ri.”
Sekejap Lauri memalingkan wajahnya. Ada sesuatu yang membasahi contact lens Lauri, ia tak tahu mengapa. Finan mengerti, namun sekedar bertanya ada-apa pun ia tak sanggup. Ia mengerti saat ini pasti tiba dan ia, mungkin mereka berdua, telah mempersiapkan segala kemungkinan. Namun teori dan strategi runtuh seketika. Dan dengan tegap hati Finan berkata, “Besuk kalo gue sempet pulang, akan gue bawakan surprise kado yang bener-bener surprise Ri”.
Hati Lauri pun tersentak, dan dengan lantang pula ia menjawab, “Kita lihat aja siapa yang duluan nyamperin oke? Mau taruhan? Ha?”
Finan hanya bisa menggeleng sambil tersenyum kecut. Dan pada akhir konversasi, Finan memeluk Lauri sambil berkata, “Gue ngelanjutin studi International Relations di Taras Shevchenko University Ri, tadi kamu belum sempet nanya.”

***

Jam tangan Finan sudah menunjukkan 10 A.M., dan gadis yang ditunggunya belum juga tiba. Terbesit di benak Finan masa-masa bersama mereka dulu di Jakarta. Tidak ada keraguan dari Finan bahwa Lauri, gadis pujaannya akan datang di Taman Shevchenko ini sesuai janjinya untuk berkunjung. Ia tak mengerti kenapa Lauri tak mau dijemput di airport. Lebih dari itu, Finan belum lama sadar bahwa pertemuan gradual dan hubungan longgar seperti ini lebih melegakan daripada LDR  (Long Distance Relationship) yang berbahaya.
Jam menunjukkan pukul 11 A.M. dan Lauri belum juga tiba. Di suhu yang mendekati minus ini tak banyak orang Asia yang bisa bertahan sekalipun mengenakan mantel berlapis. Ia mulai menelepon Tommy teman sekamarnya, sekedar meminta tolong mematikan laptopnya masih yang menyala di kamar. Tommy ini tak lain adalah Tommy Rustaji musuh Finan dahulu ketika SMA, keduanya saling membenci sejak insiden tim untuk kompetisi software komputer. Namun berkat Lauri yang merasa bersalah akibat insiden drop-rat, keduanya berbaikan bahkan saling support. Buktinya mereka sepakat kuliah bersama di Kota Kyiv sekalipun beda jurusan, Tommy di Sistem Informasi.
“Halo Tom, lo di kamar ga?”
“Aduh gue di luar sob. Kenapa?”
“Ah elu, yauda gue pulang agak sorean ya sob.”
“Nah bener pulang sore aja, malem aja kalo perlu sob, haha.”
“Ngapain lo aneh banget. Eh kok gue denger suara bus kayak di depan gue. Lo di mana sih?”
“Waduh ketahuan, serbu Ri!”
Finan menoleh dan didapatinya Tommy dan Lauri berlari menghampirinya dengan membawa sewadah kue muffin  kecil yang diberondong ke arah Finan.
Keduanya berlari memeluk Finan “Selamat ulang tahun Finan! May God be with you, and always bless you. Best wishes!”
“Kampret, gue nunggu lo 3 jam Ri haha. Hampir hypothermia  gue. But all paid well lah.”
“Lebih kamu Fin haha. Nambah kurus aja kamu, sehat kan?”
“Finan mah sehat sentosa Ri, doyan makan dia di sini dari golubsty  sampai shuba  doyan dia.”
“Syukurlah. Finan aku harus ngomong, aku kangen banget sama kamu.”
“Sama Ri, gue udah nunggu hari ini semenjak kamu mesej minggu lalu.”
“Ehem. Ehem. Hei Ri, Fin, ada yang mau lihat pelangi ga? Tuh nongol keren di langit.”
“Subhanallah”
“Puji Tuhan”
“Padahal tadi baru aja matahari ketutup kabut tebel ya Ri, Tom.”
“Jadi saudara-saudaraku matahari beku tadi mirip sama Finan pas masi galau dan insecure dulu, nah ketemu Lauri, langsung deh muncul pelangi. Segar, semerbak. Ya ga Ri, Fin?”
“Ah lebih lo Tom.”
“Fin, kasih dong hadiah lo buat Lauri yang udah lo siapin.”
“Rese lo, haha, kidding kamerad. Ri ini hadiah surprise yang pengin aku kasih ke kamu. Aku penginnya kamu nerima dan jaga, maaf kalo murah, jelek, dan sebagainya. Esensi. Kayaknya sih pas. Hehe.”
Sembari Finan memberikan kaos berwarnakan kuning dan biru terang layaknya bendera Ukraina, Lauri membaca tulisan di kaos tersebut, “Friends for More than Forever”
Sambil memeluk ringan Finan, Lauri berkata, “Fin kamu adalah teman terbaik terbaik terbaik yang pernah aku miliki. Makasi makasi. You’re genius as the way you are.”
Finan tertunduk dan bergumam, “True I’m a genius and an idiot at the same time I do this.”
Sambil melapisi mantelnya dengan kaos ‘friendship’ yang juga diberikan pada Tommy, Finan berkata, “Thanks Lauri, Tommy for the simplest happiness I ever had on my birthday.”
“Oke oke ritualnya ditunda nanti aja Fin, Ri. Kita bersihin dulu muffin yang berserakan tadi, sembari lihat pelangi mumpung belum ilang. Oke?”
“Oke”
“Siap kamerad.”
“Oh iya Fin aku bawain obat-obatan kalo kamu mendadak sakit. Ada turun demam, diare, juga tremor mu kalo masih kambuh. Masih banyak yang lain sih. Buat kamu juga Tom santai.”
“Oke sis, Tommy here loves you too! Sumpah deh candu banget suasana kayak gini. All Hail Friendships!”
Perbincangan akrab tiga sahabat ini pun berlanjut hingga petang. Hari itu menjadi momen yang tak pernah bisa dilupakan Finan dan Lauri. Keduanya mampu menekan ego masing-masing untuk menjaga hubungan terbaik dan tak saling menyakiti. Bagaimanapun perbedaan selalu mempunyai ruang untuk saling melengkapi. Dan rasa fulfillment tersebut akan selalu ada, bagi mereka yang menghargai perbedaan dan selalu terbuka. Mari segera menyusun puzzle kehidupan kita sendiri seindah mungkin!

read more...

Hanya Angin

Aku berdiri di tepian semesta
Mengintip sayup nyanyian surga
Lalu meraung membisukan jantung

Aku berdiri diantara pendar kaca Istana Versailles
Bercermin imaji-imaji diri
Lalu menusuk perih meletih pedih

Aku berdiri di puncak Kilimanjaro
Perkasa menantang dunia
Lalu bergulung lava meremuk raga

Aku terbangun di tengah hampa
Tak berwujud
Tak bersuara
Tak menyirnakan derita!

Namun sekejap
Kurasa remah-remah raga ini mengambang
Mengalir begitu lembut
Mencumbu ketiadaan
Mencumbu kesempurnaan

Aku ingin menjadi angin
Yang menuntun kupu-kupu berdansa lentiknya
Yang membopong layang-layang para penerbang
Yang melebur peluh dan segala aduh
Yang mengatur hujan tanpa berpesan
Yang menjaga kehidupan dan semua yang bernyawa
Yang bersama malam menuntunmu pulang

Aku ingin menjadi badai
Yang menggetarkan semesta
Yang meluluh-lantahkan nestapa
Yang mencabik-cabik segala derita
Yang merobohkan angkuh menara dusta
 
Dan berkata
Aku akan pulang dengan menang
Dan aku ingin menjadi badai sekali lagi
Dan aku ingin menjadi badai sekali lagi
Sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi
Hingga kau dan hatimu menengadah pasrah
Sudah
Mereka telah kalah
Aku telah kalah, aku menyerah
Akupun berkata
Aku yang kalah, aku yang menyerah

Saat itu langit menyemburat petang
Dan teh hangat sehangat senyummu terhidang
Aku pun berkata
Terima kasih telah menjadi langit
Yang menaungiku saat menjerit
Yang mengobati segala sakit
Yang melukis magis awan cirrus, pelangi, andromeda, dan bimasakti
Imajimu saja sudah sangat berarti

Dan jika esok hari kembali menyapa
Inginku lukis senyum-senyum mungil di langit itu
Inginku lukis binar-binar gemerlap di matamu
Inginku jadi harta karunmu yg terbesar
Inginku jadi alasanmu pulang tiap petang
Inginku kau tetap menjadi langit itu
Dan aku hanyalah angin

read more...

Surga Seharga Lumpia

Bukankah aku tuli?
Bukankah aku pemimpi?
Peminta-minta deretan makna aksara
Pengkhotbah rangkaian acak kata hampa
Naif berkaca wujud sempurna

Setiap hari hanyalah repetisi
Aku, engkau, dia, mereka
Tarian neuron otak berbuntut raga
Segala metabolismenya
Dan beberapa dosa

Walaupun inginku pulang
Ada enggan sebesar semesta
Dosa adalah harta
Yang membuatku kaya
Yang membuatku bahagia
Yang membuatku tak butuh diri-Nya
Bukankah Dia Maha Penyayang?
Itupun kalau Dia ada!

Mati
Dia membiarkan riset anti-aging
Dia membiarkan riset perjalanan waktu
Dia membiarkan kita saling bunuh!

Dunia ini bukan teka-teki
Dunia ini puzzle tak jadi
Kacau!

Aku mungkin pemarah
Penafsu sebesar jagad raya
Penipu paling digdaya
Pendosa paling sempurna

Tapi hati tak bisa dimanipulasi
Dia mencipta khawatir diri
Sempurna sembunyi

Ah sudahlah
Surga memang mahal
Otak ini tak cukup pintar untuk tahu harganya
Lebih baik menyantap lumpia
Murah, senikmat surga

Namun kadang
Kadang terbersit rasa
Jika pikir tak perlu perkasa
Jika tahta tak perlu berjaya
Jika surga seharga lumpia

Bukankah aku tuli?
Sampai akhir zaman adzan terus memanggil
Bukankah aku pemimpi?
Ya aku adalah pemimpi surga

Jika surga seharga lumpia
Maka Ia adalah Maha Seadil-adilnya
Terjangkau semua
Mungkin dunia bukan puzzle
Dunia merupa lukisan indah
Semakin dekat dipandang semakin kabur

Dan jika surga seharga lumpia
Sempurna sudah kuasa-Nya
Sangat sederhana

read more...

I Wanna Be Zero, Don't Follow

Aku ingin menjadi nol. Jangan tanyakan kenapa. Karena otak ini sudah membutakan mata, menulikan telinga, membisukan mulut, mematikan rasa, dan merusak gerak raga. Karena hati ini yang membangun kembali fungsinya, menuntunnya menyentuh damai Illahi Rabbi dan Kekasih-Nya yang dirindu setiap qalbu.

Puitis ga sob? Sepertinya ga puitis dan terkesan berlebihan. Jika ditanya kenapa diposting, jawabnya karena garapan freelance sedang rehat. Mungkin karena diminta istirahat dulu oleh Yang Di Atas untuk berbagi posting ini, tapi kemungkinan kecil sih hehe.

"Damaikanlah dua saudaramu yang berselisih. Jika salah satu pihak menganiaya, berpihaklah pada yang teraniaya. Jika keduanya telah berdamai, maka berlaku adillah pada keduanya."
(al Qur'an. 49:9)

"Naikkan perkataanmu, bukan keras suaramu. Karena hujan yang menumbuhkan bunga, bukan guntur."
(Maulana Jalaluddin ar Rumi)

"Kemarin aku cerdas maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijak maka aku ingin mengubah diriku sendiri."
(Maulana Jalaluddin ar Rumi)

Islam. Terorisme. Jihad. Perjuangan. Resolusi Konflik (Ishlah). Kerjasama Kemanusiaan (Ta'awun Insani). Karunia Universal (Rahmatan lil 'Alamin).

Islam identik dengan terorisme, semua orang tahu. Abad 21 yang gagal digadang-gadang sebagai abad kebangkitan Islam, banyak orang tahu. Data rinci perpecahan Islam dari dalam, beberapa orang tahu. Saksi dan korban saling kebencian sektarian ini, mengemuka. Namun yang menyikapi persoalan ini dengan hati dan pikiran yang tenang untuk kebaikan ummat dan kebaikan dunia, sedikit jumlahnya. Mereka yang berjuang di jalan ini, bahkan mungkin hanya Allah yang tahu. Saya bukan siapa-siapa hanya orang yang tertarik pada diskursus ini.

Sudah usang kita tahu Islam hampir dikembarkan dengan konflik, baik dengan pihak eksternal maupun internal. Islam disebut-sebut menghalalkan pertumpahan darah untuk memerangi mereka yang kafir dan munafik. Sudah usang juga kita tahu bahwa penjelasan al Qur'an untuk rentetan ayat-ayat perang harus dikorelasikan dengan ayat lain dan hadits, bahwa perang hanya diperbolehkan sebagai pertahanan atau mencegah kemungkaran, dan seusai kemenangan perang, kaum Muslim harus berlaku adil. Sudah usang kita tahu bahwa kondisi awal perkembangan Islam di masa Sayyidina Rasulullah mengharuskan kaum Muslim mengangkat senjata. Sudah usang pula kita tahu bahwa akar kata Islam adalah salam yang artinya damai, pasrah, atau selamat. Tapi apakah kita semua peduli? Semoga saja rentetan huruf di atas sudah kita ketahui semua.

Salah satu teori mewujudkan integrasi adalah pelabelan common enemy, dan di era revolusi informasi ini komunikasi menjadi sangat mudah, sangat mudah mencari keburukan lawan dan melabelinya musuh. Bagi Islam, saya meyakini common enemy baik eksternal maupun internal itu penting dan konflik itu membangun dinamika. Tapi ketika dinamika ini mengorbankan adab dan akhlak apakah sesuai dengan tuntunan Rasulullah? Saya tidak yakin sesuai.

Ketika kita berbicara urgensi jihad karena dunia Islam sedang dizalimi sebagai kewajiban seorang "hamba Allah", nanti dulu tinjau layakkah kita dipanggil hamba Allah? Ketika kita berdoa kepada Allah dan menyebut diri kita hamba, kita sudah menyombongkan diri di hadapan-Nya kawan. Seorang hamba artinya seorang yang sudah diangkat tuannya untuk mengabdikan diri. Saya memang mencoba meng-highlight kata "hamba Allah" ini. Jika kita masih berontak, sedikit kecintaan terhadap-Nya, Rasul-Nya, dan seluruh ciptaan-Nya maka menjadi hamba pun kita tidaklah pantas kawan. Korelatif ketika kita berapi-api mengusung panji suci Din mulia Islam untuk berjihad, padahal adab kita belum diterangi cahaya-Nya, maka jadilah Islam seperti hari ini, konflik eksternal dan internal dalam Islam hanya menguras tenaga, konsentrasi, dan sumber daya kita kawan. Marilah jangan sia-siakan energi untuk berkonflik, mari kita bangun Islam dari dalam terlebih dahulu, tebar cahaya kecintaan, maka kecintaan Allah pun akan menerangi dan menuntun kita semua. Sebuah logika sederhana.

Saya tidak menghakimi dan tidak menyebut siapapun di sini. Yang ingin saya soroti adalah ishlah atau resolusi konflik adalah agenda yang urgent bagi ummat Islam. Jangan sampai perbedaan kepentingan yang terus menerus mengemuka dan dipelihara akhirnya berevolusi perlahan menjadi perbedaan aqidah. Ini berbahaya! Ingat kasus Sunni-Syiah. Kalaupun kita semua telah terlanjur berbeda maka ta'awun insani tidak dipersalahkan dalam Islam bukan? Marilah kita semua bergerak ke angka nol, berdekonstruksi, menuju samudera penihilan, tanpa antithesis, ke pusat semesta, tiada lawan, menemukan hakikatnya Yang Maha Sempurna, kedamaian dan kepasrahan, diterangi cahaya cinta Sayyidina Nabi, mengembalikan segalanya pada Illahi Rabbi, diterangi cinta hakiki. Insya Allah kita akan dituntun ke dalam kebenaran hakiki, upaya kebaikan tak akan sia-sia kembali. Rahmatan lil 'alamin niscaya mengiringi.

Astaghfirullahaladzim alladzi la illaha illal huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih, rabbi dzambin 'adzim thahiran wa bathinan shirran wa jahran taubatan nasuha.

Selamat malam.

read more...